Senin, 05 Mei 2008

''Gara-Gara Uang Seratus''

Pada waktu itu Santi lagi doyan-doyannya makan bakso. Seperti biasanya setiap malam pedagang bakso favoritku mangkal diperempatan jalan, agak jauh dari rumahku. Sambil menyembunyikan kantong kecil yang terbuat dari kayu,itu lho....yang bunyinya ''tok tok tok''. Mendengar bunyi yang tak asing lagi,langsung saja Santi ambil uang sekenanya sambil menuntun sepeda keluar. Setelah dijalan depan rumahku,langsung saja Santi mengenjot sepedanya. Sesampainya ditempat si abang bakso mangkal yang agak penuh oleh pembeli,langsung saja aku langsung saja memesan bakso semangkok. Ketika selesai makan bakso,langsung aku merogoh saku untuk membayar bakso,tetapi setelah uangnya ku serahkan kepada abang bakso tersebut, dia berkata ''Lho kok cuma seratus Ko,''katanya heran. Lalu aku memeriksa uang tersebut,setelah aku periksa ''ya ampun''ternyata benar uangnya cuma seratus rupiah. Aku berfikir mungkin tadi aku salah ambil,uang seratus dikira uang lima ratus yang memang sama-sama uang kertas. Lalu aku mendekati si abang bakso tersebut sambil berjanji akan mengambil uang kerumah.
Namun sial,sebelum aku sempat mengenjot sepeda,tiba-tiba ada pembeli yang dari tadi mendengarkan percakapanku nyelentuk ''Wah Santi masih bayi nggak tahu uang lima ratus. Gerr.....pembeli lainnya termasuk si abang bakso ikut tertawa. Duh malunya. Langsung saja mengenjot sepeda untuk mengambil uang kerumah. ''Ini gara-gara uang seratus ''gumamku lirih sambil mengenjot sepeda. Sejak saat itu aku bila membeli bakso selalu ada yang bilang ada anak bayi yang beli bakso. Namun aku cuek pura-pura tidak kedengeran,padahal dalam hati malunya sebesar bumi.

Tidak ada komentar: